Monday, December 07, 2015

HO CHI MINH - DALAT - MUI NE IN MY WAY (PART1)

Mata ini tiba-tiba tak mau terpejam kala mengingat bahwa besok adalah hari keberangkatan ku menuju Ho Chi Minh City atau yang dulu biasa si sebut Saigon. Ini adalah perjalanan teraneh ku mengingat bahwa tiket baru saja ku beli H-2 keberangkatan dan aku berangkat tanpa membeli tiket pulang. Aaahhh.... rasanya separuh diri ini masih letih karna baru beberapa hari menapakkan kaki di negeri tercinta ini selepas kepulangan ku dari Japan. Ya, aku baru saja 9 hari kembali dari Japan dan harus segera berangkat lagi menuju Vietnam. Perjalanan yang tak pernah kubayangkan dan tanpa rencana.



Rencana awal aku hanya akan ke Japan dan kembali ke Tanah air melalui Korea setelah singgah dulu selama seminggu di Korea. Rencana tinggal rencana, kenyataannya adalah aku harus segera kembali ke Tanah air karena sipapa berencana membawa ku dalam misinya menuju Vietnam.

Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam saat aku terjaga, teringat bahwa aku belum mulai mengemas segala keperluan ku. Berdebat sesaat dengan sipapa hanya untuk menentukan koper mana yang akan kami bawa. Sejujurnya aku enggan harus geret dua koper meskipun hanya satu yang berukuran medium sementara satunya berukuran small atau biasa disebut koper kabin. eeh bukan aku sih yang harus menggeret koper, kan ada sipapa. Tapi tetap saja aku malas membawa dua koper.

Apa mau dikata, perlengkapan perang aku dan sipapa gak muat untuk ditempatkan di satu koper, alhasil terpaksa harus membawa serta si koper kabin.

Tak butuh waktu lama untuk ku mengemas perlengkapan karna perjalanan ini hanya satu minggu. Jam 12 malam semua sudah selesai, tapi mataku tetap tak mau terpejam. Gundah mulai melanda saat teringat bahwa aku tidak menyusun rencana perjalanan sama sekali. Yah ini memang perjalanan teraneh ku. Berangkat menggunakan pesawat yang terpisah dari pesawat sipapa, belum membeli tiket kembali ke Jakarta, dan tidak menyusun rencana perjalanan, juga tidak mempersiapkan anggaran biaya perjalanan. Luarrrr biasaaaaa!!!

Tiba-tiba dikagetkan oleh suara alarm dari seluler sipapa, waktu sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Aku tidak tidur, hanya saja aku sedang asik menulis dan ide ku sedang menggalir dengan derasnya, arggghhh ide itu pun harus segera dikemas, dimasukan otak dan ditutup kembali sampai tiba waktunya aku berkesempatan untuk menulis lagi.

Dengan sigap sipapa bangun dari tidurnya, mencuci muka, sikat gigi dan berganti pakaian. Enggak mandi? Tanya ku, " nanti aja di Ho Chi Minh" jawab sipapa santai. Whaaattt?? ooh... okeh klo gitu aku juga mandi setibanya di Ho Chi Minh nanti.

03.30 AM
Taxi meluncur dengan suksesnya dari rumah kami dibilangan Jagakarsa menuju bandara udara Soekarno Hatta. Kucium satu persatu bidadari kecil ku, bergantian.... "sampai bertemu minggu depan kiddos, baik-baik dirumah yaaa" bisik ku sebelum aku memutuskan untuk menaiki taxi yang akan membawa kami ke bandara. Ku lihat sipapa melakukan hal yang sama. Dingiiiin.... pagi itu terasa sangat dingin, entah karna udara atau karna keteganganku saat itu. Lagi-lagi aku kepikiran perjalanan yang tanpa persiapan ini.

04.30 AM
Taxi yang kami tumpangi tiba di Soekarno Hatta airport terminal 2. Sipapa turun dengan membawa 2 koper kami, "sampai ketemu di Ho Chi Minh bun" gitu kira-kira kata-kata yang ku dengar diantara deruman knalpot mobil. "Yeah" jawab ku sekenanya sebelum akhirnya taxi meneruskan perjalanan menuju terminal 3. Kami memang pasangan aneh, bahkan travelingpun kami tidak menggunakan pesawat yang sama. Sipapa menggunakan SQ dan akan transit di Singapore sementara aku menggunakan AA dan akan transit di Kuala Lumpur. Kabar baiknya adalah sipapa akan tiba lebih dulu di Ho Chi Minh, dan aku terbang tanpa membawa koper satu pun, hanya tas kecil yang selalu menggantung di sebelah pundak ku.

Setelah menunaikan sholat subuh, aku melewati gate yang sama saat beberapa hari lalu ke Japan, duduk di tempat yang sama tapi dengan orang-orang yang berbeda. Oh, aku merindukan mereka..... teman-teman seperjalanan ku ke Japan.
Lamunan buyar saat terdengar dengan kerasnya pengumuman boarding dan penumpang dipersilahkan memasuki pesawat. Dengan gontai kulangkahkan kaki ku menuju pesawat yang dimaksud. Dan 2 jam kemudian aku sudah berada di Kuala Lumpur, menunggu pesawat lain membawaku menuju Ho Chi Minh City.



Tanpa terasa terdengar lagi pengumuman untuk menaiki pesawat. Segera kulangkahkan kembali kaki ku menuju pesawat yang dimaksud dan tiba-tiba dikagetkan oleh seorang penumpang wanita asal Vietnam yang dengan asiknya mendengarkan lagu melalui earphonenya daaaaan menduduki kursi ku.
"excuse me, this is my seat" kataku sambil menyodorkan boarding pass. Seharusnya aku duduk di sebelah jendela, tetapi wanita itu tidak mau pergi dari kursi ku dan dengan percaya dirinya berkata itu kursinya dan aku disuruh duduk disamping row. Ya sudahlah, macam orang gak waras aja kan kalo aku bersitegang dengan wanita itu, lebih baik aku mengalah.

Kegilaan berlanjut, saat pesawat hendak lepas landas, itu perempuan menutup penutup jendela yang seharusnya justru dibuka, arhhhhh.... manahhh....manahhhh pramugari or pramugara?? Please tegur ini perempuan. Anehnya saat itu tidak ada satupun crew pesawat yang lewat. apa kegilaan itu sudah berakhir?? ternyata belum. Seorang bapak yang ku perkirakan berusia 50 tahun sibuk memfoto pemandangan melalui selulernya. Bagussss.... pikir ku, dan seorang pria di belakang ku yang ku perkirakan berumur sekitar 35 tahun, sibuk memelototi selulernya, dan saat pesawat sedang tinggal landas terdengar suara notifikasi aplikasi whatsapp dari selulernya, mamaaaaaaa...... pengen nangis rasanya, tapi lebih pengen ngelempar orang-orang ini keluar pesawat!! D*mn.

Perjalanan berlanjut, deg-degan melanda selama 3jam perjalanan. Satu baris di depan ku adalah keluarga asal India daaaaan di dalam pesawat menghidupkan lagu India dengan kencangnya, huhuhuhuuuuuu...... Dengan siapa kah sebenarnya aku terbang?? group sirkus kah?? Hanya bisa berdoa semoga pesawat landing dengan selamat.

3 jam perjalanan yang melelahkan jantung akhirnya berakhir. Pesawat landing dengan selamat, di bandara udara Tan Son Nhat, Alhamdulillah.
Pukul 13.00 tepat saat aku melenggang keluar melalui imigrasi Vietnam dan langsung menuju toilet. Yap toilet! penting banget nihhh karna selama perjalanan pengen muntah liat kelakuan orang-orang di pesawat yang entah berasal dari kalangan apa itu!

Sebelum melangkah mendekati pintu keluar bandara, kusempatkan untuk menukar beberapa ratus USD untuk dijadikan VND pada counter money changer yang ada di bandara. Aku sengaja tidak membawa mata uang VND karna kabarnya lebih baik untuk menukar USD ke VND dibanding beli VND dari Indonesia. Dan setelah ku tukar ternyata 100USD setara 2.237.000 VND. Hmmmm.... ternyata masih jauh lebih murah tarik tunai via mesin ATM.

Bandara udara Tan Son Nhat tidaklah besar, kalau di Indonesia ini mirip bandara Syamsudin Noor di Banjarmasin atau Sultan Syarif Kasim di Pekan baru, hanya sedikit lebih besar Tan Son Nhat. Tidak sulit juga untuk keluar bandara karna petunjuk arahnya pun sangat jelas. Sesaat setelah melewati keamanan bandara, akhirnya aku bertemu sipapa yang sudah menunggu sejak 2 jam yang lalu. Mampir sebentar di counter sim card untuk masing-masing membeli paket data seharga 290.000 VND (sekitar 175.000 rupiah), untuk penggunaan selama 15 hari. Kemudian menggunakan taxi bandara menuju hotel yang vouchernya telah kami beli seharga 220.000 VND (135.000 rupiah). Taxi ini menggunakan mobil Toyota Avanza, dan mobil di Vietnam dioperasikan dengan setir sebelah kiri. Bila ingin berhemat sebaiknya gunakan taksi Vinasun karna argonya jauh lebih murah (tarif sekitar 180.000 VND atau 110.000 rupiah).



Perjalanan dari bandara ke hotel membutuhkan waktu 30 menit. Hotel kami berada di pusat distrik 1 Ho Chi Minh City. Lelah selama beberapa jam akhirnya terbayarkan saat tiba di kamar kami di Carravelle Hotel, fiuuuuhhhh mari kita tidur....




Niat untuk tidur buyar saat sipapa meminta untuk keliling sekitar hotel, kebetulan tadi kami melihat beberapa bangunan menarik di sekitar hotel. Aku sendiri telah lebih dulu mengetahui nama-nama bangunan tersebut karna aku telah membacanya melalui internet, hanya saja tidak menyangka kalau ternyata bangunan-bangunan legendaris ini semua jaraknya sangat dekat dengan hotel dan hanya perlu mempersiapkan kaki untuk menyapanya.

Selepas ngemil pop mie yang kami bawa dari rumah, kamipun mandi dan sesaat kemudian sudah mulai mengembara di Ho Chi Minh City. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Opera House yang letaknya persis di depan Caravelle hotel. Bahkan jika memilih untuk bersantap di restaurant Caravelle pemandangan Opera House inilah yang kita dapat, lebih asik kalau bersantap dimalam hari dengan pemandangan lampu yang dipasang temaram pada gedung Opera House ini, duuuh romantisss.

Opera House siang hari
Opera House malam hari


 
Perjalanan berlanjut menuju jalan Dong Khoi disamping kiri hotel, dan menurutku itu kawasan mirip sekali dengan Kutanya Bali. Penjaja souvenir berjajar di sepanjang jalan itu, restaurant, café dan satu mall kecil yang mirip dengan ITC dengan ukuran jauh lebih kecil yg dinamakan Lucky Plaza. Teringat bahwa aku pernah membaca tentang Lucky Plaza ini tapi apa yang disampaikan penulis ternyata tidak tepat seperti harapan ku. Tidak ada apa-apa di dalam mall ini, hanya penjaja pakaian dan souvenir yang di Jakarta juga banyak sekali barang-barang semacam itu dengan harga yang jauh lebih murah tentunya. Tak tertarik untuk berbelanja disana maka ku putuskan untuk mencari tempat makan karna kami belum makan siang dan ini sudah jam 3 sore. Melihat sekeliling akhirnya kami putuskan untuk mencicipi Pho, bismillah semoga halal! Kami hanya perlu membayar seharga 170.000 VND (102.000 rupiah) untuk 2 mangkuk pho, 1 gelas es teh, 1 gelas lemon tea, 1 butir kelapa. Phonya enak meski awalnya lidah ku tak terbiasa dengan rasanya, dan kelapanya duuuhhh ennnaaaak.... beda dengan kelapa yang biasa ku makan di Indonesia, sungguh!




Selesai makan kami membeli camilan pisang kering mirip pisang sale seharga 20.000 VND (12.000 rupiah), dan melanjutkan berkeliling memasuki Lucky Plaza dan keluar melalui pintu yang berbeda yang tembus ke jalan lain yang belakangan kami tau bahwa itu pusat penongkrongan yg bernama Nguyen Hue-Walking Street.

Nguyen Hue-Walking Street

Pencakar langit berpadu dengan bangunan tua




City Hall saat malam
City hall menjelang senja

City Hall siang hari

 
 
 
Sukaaaaa.... akuuuu sukaaaa dengan kota ini! Kenapa?? Pokoknya suka aja! Bangunan pencakar langit bersinergi dengan bangunan kuno peninggalan Perancis membuat kota ini terlihat romantic. Jalanannya bersih dengan trotoarnya yang lebar dan rata antara jalanan dan trotoar. Tersedia kursi-kursi disepanjang jalan ini yang aku rasa mirip taman nongkrong karena banyak gerombolan anak sekolah, orang kantor pulang kerja dan para turis yang juga nongkrong disana, bahkan selonjoran di lantai. Suka dengan kesan santai sore ini. Kami berjalan ke ujung dan menemukan bangunan City Hall disana. Spot terbaik untuk berfoto dengan latar City Hall telah kami dapatkan. Duduk-duduk santai menikmati beberapa pencakar langit yang menjulang diantara apartement kuno, menikmati cahaya flash dari kamera para turis, dan menikmati tawa pengunjung hingga tak terasa sudah pukul 7 malam dan kamipun segera kembali ke hotel untuk makan malam.

Pemandangan malam dari kamar hotel




Ho Chi Minh Hari ke 2
Bangun pukul 5 subuh, ku buka tirai kamar lebar-lebar. Tampak kabut dari kejauhan tepat diatas Saigon River. Sementara dibawah jendela kamar ku berdiri dengan gagahnya sebuah masjid yang benama Saigon Central Mosque atau Masjid Musulman. Selesai menunaikan sholat subuh aku kembali keperaduan. Cahaya matahari pelan tapi pasti mulai menembus kaca jendela kamar ku. Menikmati pemandangan pagi Ho Chi Minh City dari atas kasur sambil menikmati secankir kopi hangat adalah kegiatan yang sangat menyenangkan. Tanpa terasa waktu sudah menunjukan pukul 7 pagi dan aku harus segera membersihkan diri untuk segera bergegas mencari travel agent manapun untuk membeli tiket penerbangan menuju Jakarta.

Pemandangan pagi hari dari kamar hotel

Saigon Central Mosque difoto dari kamar hotel





Sarapan di hotel dengan menu buffet yang beraneka macam mulai dari bubur ayam, dim sum, sushi, Vietnam noodle, aneka kue, aneka buah dan minuman dan masiiih manyak lagi menu lainnya yang pasti sangat mengenyangkan. Selesai menjajal makanan-makanan itu segera kulangkahkan kaki menuju lobby dan dengan bantuan pihak hotel, aku dipesankan taxi vinasun yang memang tersedia di lobby hotel. Aku diantar taxi untuk membeli tiket bus menuju Dalat pada agent Phuong Trang Futa bus. Beres membeli dua tiket menuju Dalat, aku berjalan kaki menyusuri jalan Pham Ngu Lao dan menemukan satu travel agent. Kuputuskan untuk segera membeli tiket pesawat tujuan Singapore dan Jakarta. Beban terberat langsung sirna seketika itu saat segala urusan pertiketan telah selesai. Kembali kutukarkan beberapa ratus USD untuk dijadikan VND untuk kepentingan pengisian perut. aku mencari restaurant halal sambil menunggu 1/2 day Chu Chi Tunnel Tur yang telah kubeli pada agent travel tadi. Sayang aku tidak menemukan restaurant halal disekitar situ yang berakhir dengan perut kelaparan. Andai aku punya banyak waktu, sayangnya CS turnya memberi pengumuman bahwa bus akan berangkat pukul 13.00 tapi kenyataannya bus terlambat 30 menit dari jadwal seharusnya.

Chu Chi Tunnel
Sedang tidak ingin bercerita mengenai tempat ini, masih terbayang dalam ingatan betapa kejamnya peperangan. Semua tergambar dari foto-foto di bawah ini.

Perjalanan menuju Chu Chi Tunnel

Sepanjang pinngiran sungai dimanfaatkan sebagai tempat olah raga/ fasilitas umum


Tiket masuk


peraturan berkunjung ke Chu Chi tunnel

dimulai dengan nonton video perang

jebakan yang dipasang oleh tentara Vietnam

tempat persembunyian tentara Vietnam









macam-macam jebakan












lapangan tembak

toko souvenir


Harga untuk menembak



rumah  tempat tinggal tentara Vietnam beserta keluarganya



tur diakhiri dengan mencicipi tapioca makanan selama perang




Tur selesai pukul 18.00 dan tepat pukul 20.00 kami telah tiba kembali di Saigon. Ternyata hanya aku satu-satunya wisatawan yang minta diantarkan sampai hotel dengan membayar extra cost sebesar 50.000 VND (30.000 rupiah). Tetapi ternyata bus yang aku tumpangi tidak bisa mengantar sampai hotel, dan digantikan oleh taxi yang dibayar oleh pihak agent. Ternyata masih ada orang baik diantara para pemanfaat turis di Saigon ini. Sesampainya dihotel kaki ini segera melangkah menuju KFC, satu-satunya restaurant cepat saji yang langsung dapat kukenali dari kejauhan. Hanya ini makanan yang mungkin aku makan mengingat aku sudah sangat kelaparan dan enggan menunggu lama. Menu makan malam ku hanya sepotong ayam ditambah nasi yang kubeli seharga 39.000 VND (23.500 rupiah). Berlari ke hotel untuk segera menghabiskan sepotong ayam yang ku ragukan kehalalannya, lalu sesaat kemudian terlelap dipembaringan.

Ayam KFC Vietnam plus lalap :)

TO BE CONTINUED PART2






10 comments:

  1. mba kapan ngadain lagi tour jepang 2016 nya ? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untuk tur Japan sdh saya publish ya pendaftarannya. Berangkat April dan Nov. Untuk yg April sdh penuh, hanya keberangkatan Nov yg masih available seatnya. Baca detailnya di page mengenai open tournya yaaa.... kabari jika berminat :)

      Delete
  2. Mba maaf tanya...pesen hotelnya pake clubbali ga ya?? Msh jd member kah mba?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bu masih menjadi member. Hotel di Ho chi Minh City dipesan tidak menggunakan member cb bu.

      Delete
  3. memang mantap ulasan dari Mba Tetha, gaya bahasa penulisannya sangat hidup dan kreatif. foto-foto spot nya juga sangat bagus. jadi kepengen ikutin jejak petualangannya hehe. Trims

    ReplyDelete
  4. Mba, boleh minta kontaknya? Saya mau ke VN, HCMC bulan ini. Need urgent info. Terima kasih 😊

    ReplyDelete
  5. nak tau jugak how from ho chi minh to Da lat..tq

    ReplyDelete
  6. mbak, part 2 nya belum ada ? hehe
    penasaran sama cerita di dalatnya :)
    mau tanya kalau di dalat transportnya gmn mba ?

    ReplyDelete