Wednesday, September 24, 2014

GINI RASANYA TINGGAL DI RUMAH ASLI PENDUDUK JAPAN


Beberapa bulan lalu saat saya berkunjung ke Jepang, saya menginap di Keio Plaza Hotel Shinjuku. Kenapa pilih di Keio Plaza Hotel?? Ya gak apa-apa soalnya gratis alias dibayari kantor hubby,hehe.
Saat si papa setuju untuk memperpanjang masa tinggal selepas tugas kantor, maka saya pun melakukan reservasi kamar hotel melalui Agoda. Saya dapat sebuah kamar di hotel yang letaknya di Asakusa, pembayaran pun sudah saya lakukan. Tapi di detik-detik terakhir menjelang keberangkatan, saya membatalkan reservasi dan memilih untuk tinggal di rumah penduduk lokal yang disewakan. Maka saya pun memesan kamar melalui Airbnb. Dan bertemulah saya dengan Tao Romera si pemilik rumah yang saya huni di Jepang. Sebenarnya dia bukan orang Jepang tapi sudah bermukim selama 9 thn di Jepang. Setelah beberapa kali perbincangan melalui email, akhirnya saya pun membayar untuk kamar yang disetujui. Saya membatalkan reservasi hotel melalui Agoda dan karna sudah melebihi tenggat waktu untuk "free cancelation" maka saya dikenakan biaya pembatalan 150 ribu rupiah. Sisa uang saya di kembalikan ke rekening beberapa hari setelahnya. 
Sebenarnya hotel yang sudah saya pesan melalui Agoda sangat strategis, saya mendapatkan kamar di hotel yang terletak di Asakusa. Harusnya ini menjadi tempat yang pas bagi saya mengingat malam sebelumnya saya menginap di daerah Shinjuku. Untuk ke Asakusa dari Shinjuku sangat mudah, hanya perlu menaiki Tokyo metro&subway sekitar 30 menit maka sampailah di hotel yang dituju. Lalu kenapa saya berubah fikiran?? Karna saya ingin merasakan suasana berbeda, saya ingin merasakan ritme kehidupan di pemukiman penduduk lokal, saya ingin merasakan tidur di kasur futon, memasak di dapur penduduk dan mungkin bisa berinteraksi dengan penduduk lokal. Atas pertimbangan itu saya rela membayar biaya pembatalan reservasi Agoda dan membayar harga kamar yang lebih tinggi dari kamar yang saya pesan sebelumnya.

Dan hari yang ditunggu pun tiba. Sepulang dari berwisata, saya dan si papa kembali ke Keio Plaza Hotel untuk mengambil koper yang kami titipkan saat check out. Lalu kami melanjutkan perjalanan menuju Shinjuku station untuk lanjut lagi ke Musashi Koganei station, yaa.... letak rumah Tao di daerah Koganei. Malam itu tanpa diduga dan benar-benar diluar perkiraan saya ternyata kereta JR sangat padat, tidak seperti Tokyo metro&subway yang saya naiki beberapa saat sebelumnya. Mungkin karna sudah hampir tengah malam dan besoknya weekend, semua penumpang seperti takut ketinggalan kereta. Sial, saya membawa 3 koper masuk ke dalam kereta yang penuh sesak itu! 

Hampir menangis saya dibuatnya, karna selama di tanah air rasanya saya belum pernah naik kereta sepadat itu. Untunglah si papa terus ngasih semangat " sabar bun, perjalanan kita masih 30 menit lagi... orang-orang pasti udah turun". Saya juga berfikir seperti itu, tapi sialnya tiap kereta berhenti selalu ada penumpang yang naik.....huhuhu.... bikin tambah padat! *nangis beneran*

Setelah 30 menit berlalu akhirnya sampai juga di stasiun yang dituju, dengan penuh perjuangan akhirnya 3 koper saya selamat dikeluarkan dari kereta. Tapi kesialan berlanjut, saya gak tau alamat rumah Tao dan batre handphone pun habis. Dengan perjuangan lagi saya pun nyari no telp Tao yang tersimpan di email. Untunglah akhirnya Tao menjemput kami di stasiun dengan menggunakan sepeda, what?? #gubrak
Jangan bayangin kayak Jakarta jarak dekat dijemput mobil.... ini JEPANG! Oke abaikan, saya gak akan ngeluh, dan memulai perjalanan malam dengan berjalan kaki dan menggeret-geret koper. Untuk orang Jakarta yang pemalas seperti saya, perjalanan 600 meter terasa sangat jauh dan untungnya lagi pemandangan selama perjalanan terasa mengasikan, ditambah lagi disebelah ada cowok kece (woy, inget suami!), hahahaha.

siang hari di Musashi Koganei station
Perjalanan beberapa menit itu pun mampu membuat saya terkagum-kagum. Kagum dengan jalanan mulusnya, kagum dengan kebersihan wilayahnya, kagum dengan kerapihan rumah-rumahnya. Padahal saya yakin itu bukan rumah komplek atau town house- town house macam di Jakarta tapi auranya menyerupai rumah di town house Jakarta. Jangan bandingkan dengan ibu kota, gimana semrawutnya rumah yang gak terletak di komplek atau pun town house di Jakarta. Disini, semua tampak rapih!

Sesampainya di rumah, Tao menunjukkan beberapa ruangan di rumahnya. Tak lupa dia mengenalkan saya pada tamu lain yang saat itu sedang main game.Tak terasa jam 12.00 saat saya hentikan pembicaraan dengan Tao dan kembali kekamar untuk tidur. Akhirnya kesampean juga tidur diatas kasur futon Jepang. Gimana rasanya?? biasa aja sih, sama kayak tidur di kasur Palembang,hahaha. Dinginnya malam itu tak terasa lagi berkat selimbut tebal yang dipinjamkan Tao.


kamar yang saya tempati

lemari

halooo futon!
living room

kitchen: berantakan bekas tamu semalam masak

makanan yang disediakan Tao

bumbu dapur yg boleh dipake tamu

left: living room, right: bathroom

toilet

garden

tangga ke lantai 2

suasana sekitar rumah



Sedikit mengenai rumah, meskipun dari luar terlihat besar tapi saat didalam ukuran rumah terasa kecil, terlalu banyak sekat untuk ruangan, dan beda dengan Jakarta yang seluruh temboknya terbuat dari semen, disini kayak terbuat dari triplek dan gak kokoh layaknya rumah di Indonesia. Tapi untungnya saya mendapat kamar yang ukurannya lumayan besar, mungkin karna gak pake tempat tidur jadi keliatan luas. Untuk kitchen, living room sama aja seperti rumah di Indonesia, yang keliatan beda di bathroom, disini rumah biasa pun jadi tampak canggih karna banyak tombol otomatis di kamar mandinya, tapi semua tombol itu mudah untuk dioperasikan (kalo ngerti!).

Gak seperti biasanya, disini saya bangun jauh lebih pagi. Jam 04.30 saya udah bangun dan mendengar ribut-ribut dari kamar bawah. Sepertinya mereka bersiap melanjutkan perjalanan. Ngeliat si papa di sebelah yang asik terlelap, akhirnya saya putuskan untuk tidur lagi dan tidur saya pun kebablasan! Jam 10.00 saya dan si papa baru bangun dan bergegas mandi. Tak ada orang yang saya temui pagi itu kecuali orang Jepang teman sekamar si Tao, itupun kami gak sempat ngobrol hanya sempat melempar senyum lalu ia menghilang di balik pintu depan. Lalu kemana si Tao?? Tau gak sik..... dia belom bangun! eh pas bangun dia langsung cuci piring, dan beres-beres rumah, rajin sangat lah!

Nah ini Tao
duuh tinggi bgt sik bikin akuh makin kliatan mini :D

Pinginnya sih berlama-lama menikmati kehidupan ala-ala Japanese gitu, tapi tempat wisata udah dadah-dadah minta dikunjungi, dan kami pun bergegas pergi. Sebelum pergi Tao sempat nawarin saya untuk jadi guru masak bagi turis mancanegara yang sedang liburan di Jakarta, masakan Indonesia tentunya. Well, sedang saya fikirkan.... sepertinya asik juga :)


 


No comments:

Post a Comment